Apakah Hajar Aswad Batu Meteorit dari Luar Angkasa?

apakah hajar aswad batu meteorit dari luar angkasa 1956c97

JAKARTA – Misteri masih belum terpecahkan. Asal usul ilmiahnya masih diperdebatkan. Ada yang menyatakan bahwa Hajar Aswad adalah meteorit, ada pula yang menyangkalnya. Ada yang menyebutnya basal, batu akik, atau pecahan kaca alam. Jelas bahwa umat Islam percaya bahwa batu hitam adalah batu dari surga.

Ada beberapa versi mengenai asal usulnya. Hajar Aswad konon sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Versi lain mengatakan bahwa batu hitam yang belum berbentuk muncul pada masa pembangunan Ka’bah pada masa Nabi Ibrahim. Warna pertama konon putih susu namun lama kelamaan berubah menjadi hitam karena dosa manusia.

Bacaan Lainnya

Laman Steemit, China (6/6/2024) melaporkan bahwa sejak zaman dahulu, Hajar Aswad telah menjadi bahan penelitian ilmiah para ilmuwan dan pecinta sejarah. Kajian tentang Hajar Aswad dalam teks-teks kuno muncul dalam literatur Barat pada abad ke-19. Sumber Kuno Penjelajah Swiss Johann Ludwig Burckhardt mengunjungi Mekah pada tahun 1814 dan kemudian memberikan penjelasan rinci tentang Batu Suci dalam bukunya Travels in Arabia, yang diterbitkan pada tahun 1829.

Dalam catatannya, Burckhardt menggambarkan batu merah itu memiliki bentuk oval yang tidak biasa, diameter tujuh inci, dan permukaan tidak rata. Blackstone terdiri dari berbagai batu yang lebih kecil, tulis para peneliti.

Pemeriksaan Hajar Aswad berikut ini dilakukan oleh Paul Partsch, kurator Koleksi Perhiasan Kerajaan Austro-Hungaria. Orang inilah yang pertama kali mengklaim bahwa Hajar Aswad adalah meteorit pada tahun 1857. Namun berdasarkan karakteristiknya, Robert Dietz dan John McHonde dari University of Illinois, AS, dalam dokumen tahun 1974 berjudul Cosmic Debris: Meteorites in History. California Press (1991), menyimpulkan bahwa batu hitam itu memang batu akik.

Menurut laman Ancient Sources, seorang ahli geologi di Universitas Oxford di Inggris menunjukkan tanda-tanda bahwa batu hitam itu adalah bagian dari meteorit. Anthony Hampton, ahli geologi di Universitas Oxford, mengakui penelitian terhadap batu hitam masih terbatas karena tidak mungkin menemukan batu untuk diuji begitu saja.

Oleh karena itu, Hampton mempelajari Black Rock dengan menganalisis sampel pasir lokal yang diambil dari radius dua kilometer dari tempat ditemukannya Black Rock. Hasil analisis sampel menunjukkan bahwa jumlah iridium atau besi yang terdapat pada meteorit dalam sampel tersebut melimpah dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata iridium yang terdapat di dalam tanah.

Terkait persepsi Hajar Aswad sebagai meteorit, British Natural History Museum bereaksi berbeda. Asosiasi ini menunjukkan bahwa batu suci tersebut adalah pseudomeorit, atau batu dari Bumi tetapi secara keliru dikaitkan dengan batu luar angkasa.

Pada tahun 1980, Elsebeth Thomsen dari Universitas Kopenhagen di Denmark mengajukan hipotesis berbeda. Menurutnya, cahaya baru tersebut mendokumentasikan asal muasal tiang merah Ka’bah, batu hitam batu hitam tersebut adalah wabar, pecahan kaca akibat hantaman meteorit yang jatuh di kawasan tersebut. . Di gurun Rab al Khali, 1.000 kilometer sebelah timur Mekah. Meteorit tersebut diperkirakan jatuh 6.000 tahun lalu.

Kawah di Wabar terkenal dengan beberapa blok kaca silika yang menyatu akibat panas tumbukan dan berisi butiran paduan nikel-besi dari meteorit. Dalam puisi Arab kuno, Wabar dikenal sebagai situs kota yang indah namun dihancurkan oleh api dari surga akibat kejahatan kekaisaran pada saat itu. Kajian ilmiah terhadap Kawah Wabar pada tahun 2004 menunjukkan bahwa umur Kawah Wabar diperkirakan 200-300 tahun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *