Foto dan Profil Tom Lembong, Sosok Tampan yang Namanya Disebut dalam Debat Cawapres

foto dan profil tom lembong sosok tampan yang namanya disebut dalam debat cawapres 18268af

kabarkutim.com.com, Jakarta – Nama tiba-tiba menjadi trending topik di Twitter setelah namanya disebut-sebut dalam debat Kavapres yang digelar pada Minggu, 21 Januari 2024 malam.

Siapa Tom Lembong? Di bawah ini . Pria bernama asli Thomas Trikasih Lembong ini merupakan mantan Menteri Perdagangan yang menjabat pada 12 Agustus 2015. Ia menggantikan Rakhmat Gobel.

Bacaan Lainnya

Kini nama Tom Lembong kembali ramai dibicarakan setelah ia masuk dalam tim pemenangan calon presiden (Capres) dan (Cavapres) nomor urut 1 -Muhaymin Iskandar alias Chuck Imin. Bahkan, beberapa hari lalu, video Tom Lembong membahas taman kanak-kanak viral di Twitter. Biografi lengkap Tom Lembong

Menurut saluran berita kabarkutim.com.com, Tom Lembong memiliki latar belakang yang mengesankan di bidang pemerintahan dan keuangan. Beliau menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak 27 Juli 2016 hingga 20 Oktober 2019. Dan sebelumnya, pada tahun 2015, ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendagri) menggantikan Rahmat Gobel.

Sebelum bergabung dengan pemerintahan, Tom Lembong bekerja di beberapa lembaga keuangan internasional, termasuk Deutsche Bank, Morgan Stanley dan Farindo Investments.

Tom Lembong memulai karirnya di Morgan Stanley and Company sebagai sales and trading associate, kemudian bekerja sebagai senior manager di departemen keuangan perusahaan Makindo di departemen ekuitas Morgan Stanley (Singapura) dan menjadi investor di Deutsche Securities.

Dari tahun 2002 hingga 2005, Tom Lembong memimpin kelompok tersebut dan menjabat sebagai Wakil Presiden Badan Penyehatan Perbankan Indonesia (BPPN). Dia kemudian bekerja untuk Principia Management Group sebagai bankir investasi.

Tom Lembong mendirikan Quvat Capital, sebuah perusahaan investasi dengan pengelolaan lebih dari US$500 juta. Perusahaan ini mengoperasikan 11 perusahaan di berbagai sektor, termasuk pelayaran, barang konsumsi, dan jasa keuangan.

Prestasinya diakui oleh World Economic Forum (Davos) dengan dianugerahi gelar Young Global Leader (YGL) pada tahun 2008. Tom Lembong menerima gelar AB (Bachelor of Arts) di bidang Arsitektur dan Desain Perkotaan dari Universitas Harvard pada tahun 1994.

Sementara menurut Stock Channel kabarkutim.com.com, Tom Lembong dikabarkan mengenyam pendidikan dasar di Jerman pada tahun 1974 hingga 1981, sedangkan ayahnya melanjutkan pendidikan. Sekembalinya ke Jakarta, Tom Lembong melanjutkan studinya di Sekolah Dasar dan Menengah Regina Pacis di Jakarta.

Sedangkan saat Tom masih SMA, dia pindah ke Boston, AS. Ia kemudian menerima gelar Bachelor of Arts di bidang arsitektur dan perencanaan kota setelah lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1994. Pada tahun 2008, Forum Ekonomi Dunia (WEF) memilihnya sebagai Young Global Leader (YGL).

Ini lanjutan nama Tom Lembong yang disebut-sebut dalam pembicaraan Kawapra malam tadi.

Calon Wakil Presiden (Cavapres) Nomor Urut 02 Gibran Rakabuming Raka menilai Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01 Muhaimin Iskandar alias Chuck Imin tak memahami pertanyaan yang diajukan kepadanya saat Debat Cavapres yang digelar pada Minggu, 21 Januari. malam 2024.

Gibran lantas menduga Chuck Imin mungkin mendapat nasehat dari salah satu pemain terbaik timnya, Tom Lembong.

“Saya sudah mengatakan ini sebelumnya. Gus Muhaimin mungkin tidak mengerti apa yang diberikan padanya. Dia dapat contekan dari Tom Lembong,” kata Gibran.

Gibran Rakabuming Raka mengatakan mereka membahas isu pembangunan bersama, salah satunya pembangunan ibu kota negara (NCI) kepulauan tersebut. Perkembangan IKN bukanlah hal yang penting di Jawa.

“Dia bilang dia tidak menjawab pertanyaan itu, malah bicara tentang pembangunan paralel. Maksud saya bukan Jawa-sentris, tapi Indonesia-sentris. Perkembangan IKN sebagai simbol perubahan pembangunan di Indonesia. ., Papua, dan lain-lain sudah tidak lagi Jawa-sentris,” kata Gibran.

Gibran mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembangunan tidak bersifat Java-centric: Mulailah mendengarkan masyarakat, khususnya di luar Pulau Jawa, untuk berkoordinasi dan membuat kebijakan baru untuk pertumbuhan ekonomi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *