Indef: Cawapres Elaborasi Strategi Atasi Kemiskinan dan Ketimpangan

indef cawapres elaborasi strategi atasi kemiskinan dan ketimpangan 1c687ff

kabarkutim.com.CO.ID, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan calon presiden dan wakil presiden (cawapres dan cawapres) Republik Indonesia harus menguraikan dengan jelas strategi dan program penanggulangan dan kesenjangan. di masyarakat.

“Perlu ada kejelasan mengenai strategi apa yang dapat ditawarkan oleh masing-masing kandidat untuk mengurangi tidak hanya dalam konteks nasional, tetapi terutama di daerah pedesaan,” kata Kepala Pusat Pangan, Energi dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Abra Talattov di depan umum. diskusi di Jakarta pada Kamis (18/1/2024).

Bacaan Lainnya

Secara spasial, angka kemiskinan di beberapa pulau masih sangat tinggi, seperti Maluku dan Papua dengan angka kemiskinan 19,6 persen serta Bali dan Nusa Tenggara dengan angka kemiskinan 13,62 persen. Sedangkan angka kemiskinan nasional pada Maret 2023 sebesar 9,36 persen atau 25,9 juta jiwa.

Abra mengatakan, tingkat di Indonesia terus menurun dan pemerintah menargetkan mencapai 0 persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2024. Namun hingga Maret 2023, kemiskinan ekstrem di Indonesia masih mencapai 1,12 persen.

Parameter kemiskinan ekstrim adalah pengeluaran seseorang atau individu sebesar Rp10.739 per hari atau Rp322.000 per bulan.

Setiap calon presiden dan wakil presiden mempunyai tujuan untuk menurunkan angka kemiskinan pada tahun 2029. Kandidat nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar menargetkan penurunan angka kemiskinan dari saat ini 9,36 persen menjadi 4-5 persen pada tahun 2029.

Pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menargetkan angka kemiskinan bisa ditekan di bawah 6 persen. Sementara itu, pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranovo-Mahfud Md memiliki target yang jauh lebih ambisius yaitu menurunkan angka kemiskinan sebesar 2,5 persen pada tahun 2029.

“Tentu saja, mengingat tujuan masing-masing kandidat berbeda-beda, kita tidak boleh menganggap remeh janji-janji tersebut. Kita juga perlu menguraikan lebih lanjut strategi program apa yang akan digunakan masing-masing kandidat untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Tercapainya tujuan yang ditetapkan masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden, ujarnya.

Sementara soal ketimpangan, Abra mengatakan selama beberapa tahun rasio Gini relatif stagnan, dengan posisi Maret 2023 sebesar 0,313. Ketimpangan perkotaan menunjukkan peningkatan dari 0,402 pada September 2022 menjadi 0,409 pada Maret 2023.

Untuk itu, calon presiden dan wakil presiden harus menunjukkan strategi dan program untuk mengatasi persoalan ketimpangan di tanah air. Hal ini juga harus ditekankan dalam debat para kandidat di masa depan.

“Kita perlu melihat sejauh mana para kandidat merancang program yang dapat mengurangi tingkat ketimpangan di perkotaan seiring dengan meningkatnya kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *