Ini 4 Sosok Dokter yang Terlibat dalam Pembentukan Hari Jadi Kemenag pada 3 Januari

ini 4 sosok dokter yang terlibat dalam pembentukan hari jadi kemenag pada 3 januari 38ecdc3

kabarkutim.com.com, Jakarta – Tanggal diperingati sebagai hari jadi Kementerian Republik Indonesia yang kini memasuki usia ke-78. Nampaknya berbagai pihak terlibat dalam berdirinya tahun 2024 ini, termasuk kalangan profesi kedokteran.

Hal itu diungkapkan oleh Departemen Ilmu Pengetahuan Sejarah dan Kepahlawanan pada Departemen Organisasi (PB ).

Bacaan Lainnya

PBIDI mencatat kiprah para dokter yang terlibat dalam pendirian RI dan para dokter yang membangun departemen tersebut.

“Dokter dan IDI mempunyai peranan penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, baik dalam bidang kedokteran, politik, dan sosial. Para dokter dan perkumpulan profesi kedokteran ini mempunyai peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. , ” kata Adib Khamidi, Ketua Umum Pengurus Ikatan Dokter Indonesia, dalam keterangannya kepada Health kabarkutim.com.com, Rabu 3 Januari 2020.

Menurut Dr. Muhammad Ismail Yusuf, Dokter Spesialis Saraf pada Departemen Kajian Sejarah dan Kepahlawanan Dokter pada Departemen Organisasi PB IDI, ada empat orang dokter yang terlibat dalam pembentukan dan pengembangan Kementerian Agama, yaitu: Dr. Radjiman Wedyodiningrat Dokter Moewardi Dokter Marzoeki Mahdi Dokter Tarmizi Taher.

Usulan penetapan hari jadi Departemen Agama pertama kali diajukan oleh Bapak Muhammad Yamin pada tanggal 11 Juli 1945 dalam rapat Badan Pemeriksa Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dr. Rapat tersebut dipimpin oleh Rajaman Wadudeningrat, Bapak Muhammad Yameen menyarankan perlu adanya kementerian agama yang khusus.

Namun usulan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh peserta rapat BPUPKI hingga akhirnya organisasi tersebut dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945 dan digantikan oleh Panitia Persiapan Pembebasan Indonesia (PPKI).

Pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), usulan pembentukan kementerian agama kembali disampaikan. Rapat PPKI diadakan pada tanggal 19 Agustus 1945 yang membahas pembentukan departemen agama.

Anggota PPKI tidak setuju dengan usulan Kementerian Agama, 19 dari 27 anggota PPP menyatakan secara khusus tidak setuju dengan pembentukan Kementerian Agama.

Pada tanggal 25-27 November 1945, dalam rapat pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), muncul kembali usulan pembentukan Kementerian Agama.

KNIP adalah parlemen Indonesia dari tahun 1945 hingga 1950. Dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua KNIP Sutan Sajhir tersebut, delegasi Komite Nasional Indonesia Wilayah Residen Banyumas yaitu K.H. Abu Al-Diri, K.H.M. Salih Swedi dan M. Sokoso Varjusaputro mengusulkan pembentukan Kementerian Agama.

Juru Bicara K.H.M. Perwakilan KNI Banyumas, Salih Swedi, menyarankan agar: “Dalam Indonesia merdeka ini, urusan keagamaan tidak boleh diserahkan hanya kepada Kementerian Pendidikan, Bimbingan dan Kebudayaan saja, namun harus ada Kementerian Agama yang khusus dan tersendiri.”

Usulan anggota KNI-Banyumas ini mendapat dukungan dari anggota KNIP khususnya Partai Masoumi, antara lain Muhammad Nasir dan M. Kartusodarmu. Termasuk dua orang asisten dokter, yakni Dr. Mayurdi dan Dr. Marzouki Mahdi.

Moverdi merupakan lulusan School of Applied Vocational Education and Training di Austin (Stoya) pada tahun 1933, kemudian melanjutkan studi di Genescondge Hodges School (GH). Pada tahun 1939, beliau menyelesaikan pendidikan dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (Sp.THT).

Lahir pada tanggal 30 Januari 1907 di Peti, Jawa Tengah, tokoh ini tidak hanya berprofesi sebagai dokter, namun juga aktif dalam bidang gerakan pramuka Salat Pancake, redaksi surat kabar Banteng dan mendirikan bank bernama Bank Banteng. .

Mowerdi berperan penting dalam persiapan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai Ketua Barsan Pelopur Cabang Jakarta, ia mempersiapkan dan menyelenggarakan prosesi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Untuk menghormati prestasinya, pemerintah menunjuk Dr. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 190 Tahun 1964 Mordi sebagai Pahlawan Pembebasan Nasional. Namanya pun diabadikan sebagai RSUD Dr. Mowerdi Sulu, Jawa Tengah melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah tanggal 24 Oktober. , 1988.

Sementara itu, Dr. Marzouki Mahdi lulus dari Stovia pada tahun 1918. Sosok kelahiran Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1890 ini dianggap sebagai pionir gerakan kesehatan jiwa di Indonesia dan pernah mengepalai Rumah Sakit Jiwa Bogor.

Aktif sebagai pengurus Ikatan Dokter Indonesia (VIG) dan Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta, beliau merupakan pendiri Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Selain berkiprah di bidang kesehatan, ia juga aktif dalam gerakan nasional, antara lain Ketua Boedi Otomo Cabang Semarang, Ketua Partai Raja Indonesia (Perindra) Bogor, Anggota Pengurus Perindra, dan Anggota Teo. Sang-in (badan penasehat pemerintah pusat untuk militer Jepang).

Untuk menghormati prestasinya, nama Dr. Marzouki Mehdi dipilih sebagai nama Rumah Sakit Jiwa Pusat oleh Dr. menjadi abadi Marzoki Mahdi di Bogor, Jawa Barat pada 1 Juli 2002.

Pada akhirnya KNIP menerima pertemuan tersebut dan mengeluarkan resolusi yang mengusulkan pembentukan Kementerian Agama.

Pada tanggal 3 Januari 1946, Departemen Agama dibentuk oleh Kabinet Sangir II melalui Keputusan Pemerintah Nomor 1.

Pemerintah mengumumkan pembentukan Kementerian Agama melalui Radio Republik Indonesia. Haji Muhammad Rasajdi diangkat oleh Presiden Sukarno sebagai menteri agama pertama Indonesia.

Sehari setelah berdirinya Kementerian Agama, Menteri Agama Sm. Rasajdi memberikan pidato yang disiarkan RRI yang menyatakan bahwa tujuan didirikannya Kementerian Agama adalah untuk melindungi dan menjamin kepentingan agama dan pemeluknya. Terakhir, setiap tanggal 3 Januari diperingati sebagai Hari Amal Kemenag.

Seiring berjalannya waktu, Kementerian Agama RI dipimpin oleh 24 menteri yang salah satunya berlatar belakang kedokteran yaitu Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Tirmidzi Tahir

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlinga Surabaya tahun 1964 ini berkarier di TNI Angkatan Laut selama hampir tiga dekade, menjadi petugas kesehatan di KRI Irian, Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI-AL, dan terakhir Kepala Pusat Pembinaan Mental ABRI.

Setelah keluar dari militer dengan pangkat Laksamana Muda, pria kelahiran Padang, 7 Oktober 1936 ini diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI selama lima tahun. Hingga akhirnya mendapat amanah sebagai Menteri Agama pada VI. Dari tahun 1993 hingga 1998, ia dipindahkan ke Kabinet Pembangunan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *