KKP Targetkan PDB Perikanan Indonesia Tumbuh 6% di 2024

kkp targetkan pdb perikanan indonesia tumbuh 6 di 2024 2783106

kabarkutim.com.com, Jakarta – Kementerian dan () menargetkan peningkatan perikanan sebesar 5-6 persen pada tahun 2024. Mulai triwulan III tahun 2023 perikanan Indonesia adalah 6,78 persen.

“Indonesia harus berjuang untuk menjadi champion dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia,” kata Menteri KKP Sakti Wayu Trenggono dalam konferensi pers di kantor KKP, Jakarta, Rabu (10/1/2024).

Bacaan Lainnya

Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan ekspor produk ikan senilai $7,20 miliar atau Rp112 miliar pada tahun 2024.

Angka tersebut meningkat dari realisasi ekspor produk perikanan yang mencapai nilai sementara sebesar $5,6 miliar atau Rp87,25 miliar pada November 2023.

Sedangkan pada tahun ini akan mencapai 30,85 juta ton, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar 24,74 juta ton.

Oleh karena itu, target produksi garam 2 juta ton, target konsumsi ikan 59 kg per botol per tahun, luas kawasan konservasi laut diharapkan mencapai 29,30 juta hektar, selesainya penataan ruang laut dan pesisir. potensi. Zona. 21 wilayah,” kata Trenggono.

Saat ini, lebih dari 80 persen spesies ikan yang ditangkap berada di kawasan hayati yang dilindungi.

Menteri Kelautan dan Perikanan membuka jalan bagi bajak laut asing untuk masuk ke industri perikanan Tanah Air. Para investor ini harus menciptakan industri substitusi tepung ikan impor yang telah mencapai 89 persen dari total permintaan.

“Kalau investor mau 100 persen (pakan lokal) tapi tidak impor, ya kita tunggu saja. Tapi kalau semuanya impor, lalu impor lagi, belum. Kita akan mandiri,” kata Menteri Trenggono usai mengunjungi Konferensi Nasional Pengembangan Perikanan Budidaya Berbasis Ekonomi Biru di Jakarta, Senin (18/12/2023).

Alasan dibukanya opsi tersebut adalah ketergantungan terhadap produk ikan impor yang saat ini tengah mengkhawatirkan. Lebih lanjut, diakuinya, Indonesia belum menemukan bahan pengganti tepung ikan berbahan dasar tepung ikan.

Menurutnya, jika opsi tersebut tidak dilakukan maka akan sangat berbahaya bagi industri perikanan budidaya di Indonesia jika negara produsen pangan menutup pintu ekspor.

“Kita harus pindah. “Kalau kita tidak bisa melakukan itu, kita akan menjadi negara terbelakang,” ujarnya.

Oleh karena itu, melalui Dirjen Pertamanan, timnya aktif bekerja sama dengan universitas dan institusi luar negeri untuk mencari solusi pengganti pakan ikan agar tidak bisa diimpor secara terbuka.

“Kemudian kita akan mencari solusi untuk menggantikan pangan yang berasal dari makan ikan, bisa diganti dengan bahan nabati misalnya,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *