Penjualan Dilarang Sementara karena Dugaan Pemicu Gagal Ginjal, Begini Sejarah Obat Sirup

penjualan dilarang sementara karena dugaan pemicu gagal ginjal begini sejarah obat sirup aa97f39

kabarkutim.com.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (COMEX) memerintahkan seluruh apotek dan toko obat untuk menghentikan sementara penjualan obat sirup. Hal ini menanggapi temuan dan klaim penggunaan sirup yang mengandung zat berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang diyakini menyebabkan masalah ginjal misterius pada anak menjadi penyebabnya.

Pelarangan penggunaan dan penjualan sirup menimbulkan kekhawatiran masyarakat, karena sirup jenis ini biasa digunakan oleh orang tua untuk mengobati anaknya yang sakit. Jika saat ini penggunaan sirup dilarang, mengapa obat ini digunakan selama berabad-abad? Yuk simak di bawah ini sejarah penggunaan obat sharbat.

Sejarah sirup obat

Pada awal tahun 1800-an, masyarakat Amerika Serikat (AS) berobat dengan mengunjungi apotek setempat. Petugas apotek kemudian mencampurkan senyawa obat herbal dan mineral. Menurut laman Konvensi Farmasi AS, orang yang mencari pengobatan melihat prosesnya seperti seorang barista yang mencampurkan bahan-bahan minuman kopi.

Namun salah satu bahaya obat cair ini adalah airnya terkontaminasi dan dosisnya salah, baik tinggi maupun rendah. Saat itu masyarakat mencoba pengobatan alternatif dari dukun.

Akibatnya, kepercayaan terhadap efektivitas pengobatan tradisional mulai menjadi tidak percaya. Terakhir, Profesor dan Dr. Lyman Spalding dari New York, Amerika Serikat, membentuk Farmasi Amerika Serikat pada bulan Januari 1820 untuk menetapkan standar kualitas obat guna melindungi kesehatan masyarakat.

Obat batuk dengan kandungan candu

Pada akhir tahun 1800-an, orang Amerika biasa menggunakan sirup tersebut untuk meredakan batuk. Namun sirup yang digunakan mengandung candu atau candu. Opium merupakan zat yang dihasilkan oleh tanaman opium yang diketahui menyebabkan ketergantungan atau kecanduan.

Menurut Healthline, pada akhir tahun 1800-an beredar Sirup Batuk Satu Malam, obat batuk yang mengandung alkohol, ganja, kloroform, dan morfin. Obat-obatan termasuk obat-obatan yang dijual bebas (OTC) atau obat bebas.

Obat tersebut menjanjikan dapat mengurangi batuk di malam hari sehingga pasien bisa tidur nyenyak. Namun dengan senyawa dan kandungan yang dimilikinya, tak heran jika obat ini menyebabkan penggunanya cepat kehilangan kesadaran.

Obat batuk dengan bahan pereda nyeri

Selain opium, obat batuk pada tahun 1800-an juga menyertakan morfin, sejenis candu yang berasal dari tanaman opium. Opioid adalah senyawa narkotika yang terdapat dalam obat apa pun sebagai pereda nyeri.

Awalnya, morfin digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, terutama bagi para veteran Perang Saudara Amerika. Morfin juga digunakan sebagai bahan tambahan dalam sirup obat batuk sebagai pereda batuk.

Perusahaan Jerman, Bayer, kemudian mengembangkan heroin, obat yang terbuat dari morfin, dan pada tahun 1895 memasukkannya ke dalam sirup obat batuk sebagai pereda batuk. Obat tersebut diakui lebih aman dibandingkan morfin, meski ternyata sama berbahayanya.

Resep sirup obat batuk kekinian

Obat batuk sirup masih beredar di pasaran saat ini, namun dengan bahan yang lebih banyak diteliti dan kemasannya diberi label. Bahan sirup obat batuk saat ini antara lain dekstrometorfan (DXM), pereda batuk, kodein, benzoat, mentol, kamper, minyak kayu putih, madu, dan guaifenesin ekspektoran.

Menurut kutipan dari Healthline, sirup obat batuk yang dijual bebas masih membawa risiko serius jika tidak dikonsumsi sesuai anjuran. Oleh karena itu, pengguna sebaiknya mengetahui cara kerja, dosis dan resep, serta disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *