Tanya Apoteker: Benarkah Konsumsi Paracetamol Berlebihan Bisa Merusak Fungsi Ginjal?

tanya apoteker benarkah konsumsi paracetamol berlebihan bisa merusak fungsi ginjal 14b73ad

kabarkutim.com.com – Kali ini tanyakan kepada apoteker Anda tentang perbedaan obat parasetamol. Apakah benar bisa merusak fungsi ginjal?

Paracetamol merupakan obat yang sering digunakan masyarakat saat sedang demam karena mudah didapat tanpa resep dokter. Namun, kasus misterius penyakit ginjal akut pada anak belakangan ini terungkap di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Di Gambia, gangguan fungsi ginjal saat ini diduga terkait dengan efek konsumsi sirup parasetamol. Ini adalah contoh pertanyaan untuk ditanyakan kepada dokter. Konsumsi parasetamol berlebihan dapat merusak fungsi ginjal. (Mengadakan pemilihan pertama)

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Indonesia sendiri belum memastikan penyebab penyakit tersebut. Pada tanggal 10 Oktober, IDAI mencatat 10 anak di 14 kabupaten menderita penyakit ginjal akut yang tidak teridentifikasi.

Apoteker, Guru Besar Universitas Gadjah Mada. Zullies Ikawati, apt., menjelaskan apa sebenarnya paracetamol itu. Simak selanjutnya Tanyakan pada apoteker!

Sebenarnya obat paracetamol itu apa ya?

Paracetamol atau dengan nama lain paracetamol merupakan obat yang dapat menurunkan demam dan menghilangkan rasa sakit. Obat ini aman untuk beberapa kondisi, termasuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta penderita gangguan saluran cerna, selama digunakan dalam dosis terapeutik.

Dosis terapi parasetamol untuk dewasa adalah 500 mg-2 g, dapat digunakan 3-4 kali sehari (500 mg), hingga maksimal 4 g (8 x 500 mg) jika nyeri atau demam masih ada. Dosis untuk anak-anak tergantung pada usia dan berat badan.

Bisakah Anda menderita overdosis parasetamol?

Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut atau berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengonsumsi parasetamol dalam jumlah besar dalam waktu 8 jam. Penggunaan 7,5-10 g dalam waktu 8 jam dapat menyebabkan toksisitas hati (hepatotoksisitas).

Penggunaan parasetamol hingga 15 g dapat menyebabkan kematian, dengan tingkat 3-4%. Secara mekanis, toksisitas parasetamol lebih sering terjadi di hati dibandingkan di ginjal.

Bagaimana sirup parasetamol dianggap bertanggung jawab atas kematian anak-anak di Gambia?

Untuk membuat suatu sediaan obat, tidak hanya zat aktif yang dimasukkan, tetapi juga senyawa tambahan lainnya. Parasetamol tidak larut dalam air, tetapi sirup menggunakan pembawa air. Oleh karena itu diperlukan bahan tambahan lain seperti propilen glikol atau etilen glikol atau dietilen glikol untuk meningkatkan kelarutan.

Tingkat senyawa tambahan dalam satu produk dibandingkan produk lainnya mungkin berbeda menurut produsen. Sirup parasetamol yang didistribusikan di Gambia kemungkinan besar mengandung sejumlah besar senyawa tambahan lain yang bisa berbahaya. Menurut informasi dari BPOM, sirup parasetamol pada produk ini tidak didistribusikan di Indonesia.

Menurut saya paracetamol tidak berbahaya, tapi mungkin mengandung bahan lain yang berisiko kematian. Dari hasil analisis laboratorium WHO, ditemukan bahan berbahaya seperti propilen glikol pada obat batuk.

Seberapa berbahayakah zat ini?

Dalam konsentrasi tinggi, bahan ini bisa menyebabkan gagal ginjal akut. WHO juga menyatakan bahwa zat tersebut beracun bagi manusia dan dapat berakibat fatal. Efek toksik mungkin termasuk sakit perut, muntah, diare, ketidakmampuan buang air kecil, sakit kepala, perubahan status mental, dan cedera ginjal akut, yang dapat menyebabkan kematian.

Namun sekali lagi, kadar yang berlebihan dapat menimbulkan konsekuensi yang berbahaya. Dan di Indonesia, penggunaan bahan tambahan dietilen glikol dan etilen glikol dibatasi, sehingga kemungkinan besar tidak akan timbul masalah keamanan.

Peningkatan jumlah anak penderita gagal ginjal akut di Indonesia yang terjadi belakangan ini tidak dapat dikaitkan dengan penggunaan narkoba dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Bagaimana dengan parasetamol di Indonesia?

Dari segi pemantauan, penggunaan parasetamol di Indonesia masih aman. Jadi Anda tidak perlu khawatir dalam menggunakan paracetamol, selama Anda menggunakannya sesuai dosis anjuran. Selain itu, paracetamol biasanya hanya digunakan ketika dibutuhkan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Jika Anda mengalami gejala yang tidak diinginkan setelah menggunakan asetaminofen, segera konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk mendapatkan tindak lanjut yang tepat.

Apakah Anda memiliki pertanyaan tentang kesehatan, nutrisi, atau masalah tempat tidur Anda? kabarkutim.com.com bisa membantu Anda menemukan jawabannya. Tulis pertanyaan Anda di kolom komentar agar pakar kami dapat menjawabnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *