Wisata Alam ke Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur

hutan wehea di desa nehas liah bing kecamatan muara wahau

Sangatta – Hutan Wehea adalah sebuah kawasan hutan hujan seluas 38.000 hektar yang terletak di Kabupaten Kutim, Kalimantan Timur, Indonesia. Hutan lindung Wehea adalah rumah bagi aneka ragam flora dan fauna, terletak di Desa Nehas Liah Bing yang merupakan kampung halaman masyarakat Dayak Wehea.

Hutan Lindung Wehea di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), adalah salah satu Hutan Tropis Indonesia yang menampilkan kekayaan dan keanekaragaman hayati.

Wehea dinyatakan sebagai ‘hutan lindung’ pada tahun 2004 oleh Dayak Wehea. Proyek ini menerima Penghargaan Kalpataru pada tahun 2009, penghargaan tertinggi lingkungan hidup Indonesia. Wehea saat ini adalah hutan yang dikelola bersama antara Dayak Wehea lokal dan Wehea Management Body.

Hutan Wehea berada mulai dari ketinggian 250 m di timur sampai 1750 m di barat, dengan tipe hutan mulai dari dataran rendah dipterocarpaceae hingga hutan pegunungan. Curah hujan umum sebesar 3000 mm per tahun dengan musim kering dari bulan Juni sampai September dan musim hujan dari bulan November sampai Februari. Suhu rata-rata berkisar 24-35 derajat Celcius. Hutan Wehea adalah DAS untuk Sungai Wehea di Kabupaten Kutai Timur dan Sungai Long Gi di Kabupaten Berau.

Kepala Bidang Objek Wisata Dinas Pariwisata Kutim, Akhmad Rifanie menerangkan bahwa perjalanan menuju hutan lindung Wehea membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Wahau.

“Hutan Lindung Wehea memiliki beberapa jalur ekowisata yang menarik. Dari empat jalur ini wisatawan akan mengetahui kekayaan flora yang dimiliki hutan lindung Wehea. Pertama jalur ekowisata bukit longsor di jalur sepanjang 2 kilometer traveler bisa belajar mengenal berbagai jenis pohon melalui papan informasi yang ditempelkan di setiap pohon,” ungkapnya.

Kedua, jalur ekowisata 4625, nama jalur ini diambil dari panjang trek yang mencapai 4.625 meter di sepanjang sungai Skung Saka.

Dengan menyusuri sungai ini traveler akan menemukan waduk yang cukup besar dimana bisa digunakan untuk berenang atau sekedar memancing.

Ketiga, jalur ekowisata Gunung Batu Putih yang mana jalur ini menghubungkan antara dua menara pandang.

Jalur ini bagus bagi traveler yang ingin belajar berbagai macam jenis pohon tetapi memiliki topografi yang curam dengan kemiringan 35-37 derajat.

Keempat, jalur ekowisata Puncak Laas yang berada diketinggian 750 meter dari permukaan laut sehingga tempat ini bagus untuk menikmati terbenamnya matahari dihutan.

Trek ekowisata di hutan Wehea sangat menjanjikan petualangan alam dihutan yang masih murni bagi pecinta wisata alam.

“Tersedia juga dua menara pandang yang memudahkan para traveler untuk menikmati pemandangan kanopi hutan Wehea,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *